TARI DOGDOG LOJOR





Tari Dogdog Lojor berasal Sukabumi yaitu Cisolok. Pada awalnya, Tari Dogdog Lojor adalah tarian uintuk acara ritual padi, dan dilaksanakan setahun sekali setelah panen, tapi sekarang sudah bisa kita lihat di acara-aca pagelaran budaya Sukabumi. Pada ritual yang sebenarnya, Seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat adalah tempat kediaman kokolot (sesepuh). Tempatnya pun selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib. Pada awalnya kesenian ini menggunakan angklung dogdog lojor. Namun, sekarang diganti menggunakan alat musik seperti gendang kecil, so'alnya angklung dogdog lojornya mulai jarang, tapi engga mengurangi kehidmatannya ko.
Tarian ini sangat unik, mulai dari lagu, kostum, hingga gerakannya. Saat menyaksikan tarian ini pun tidak akan merasa bosan atau pun jenuh. Mengapa bisa demikian?? Karena suasana yang dibawakan dalam tarian tersebut yang merupakan bentuk syukur kepada yang Maha Kuasa atas hasil panen yang melimpah dan eskpresi-ekspresi yang dicerminkan dalam tarian tersebut.
Kesenian Dogdog Lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau Kesatuan Adat Banten Kidul yang tersebar disekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan Dogdog Lojor, yaitu nama salah satu waditra di dalamnya, tetapi disana juga digunakan Angklung karena ada kaitannya dengan ritual padi. Setahun sekali setelah panen, seluruh masyarakat mengadakan acara sera h taun atau seven taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai dengan petunjuk gaib.
 
Tradisi penghormatan padi dikalangan masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit Keraton Pajajaran dalam baresan pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka terhadap pengaruh modernisasi, serta hal-hal yang bersifat hiburan dan merupakan kesenangan duniawi yang bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula terhadap fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an Dogdog Lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak dan acara lainnya.
 
Instrumen yang digunakan dalam Dogdog Lojor ini adalah dua buah Dogdog Lojor dan empat buah Angklung. Keempat buah Angklung tersebut memilki nama, yang terbesar dinamakan Gonggong, kemudian Panembal, Kingking dan Inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang pemain sehingga semuanya berjumlah enam orang.
 
Lagu-lagu Dbgdog Lojor diantaranya Lagu Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Panganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis Dogdog dan Angklung cenderung tetap.
 
Sedikit berbeda dengan yang pernah tersaksikan pada tahun 1970­an di Kampung Adat Sirnaresmi Kec. Cisolok Kab. Sukabumi. Disini jumlah Angklungnya lebih banyak serta ditampilkan oleh dua kelompok yang seolah-olah berlawanan serta bertanding dalam mempertontonkan keragaman keterampilannya. Secara kompak masing-masing kelompok mempertunjukkan berbagai Iangkah sambil menabuh Angklungnya dan Dogdog Lojor. Mereka meloncat­loncat bersama, bergeser bersama dan berlarian menghindari gangguan kelompok lain. Mereka berlari data pola Oray-orayan serta bermain Ucing-ucingan, sating mengintai dan membuyarkan kelompok lain.
 
Dalam suatu upacara seren taun di Sirnaresmi pada tahun 70-an terlibat dalam Helaran Ngakut Pare. Kemudian setelah Ampih Pare, barisan Dogdog Lojor tampil mempertunjukkan keterampilannya untuk menghibur para pengunjung upacara. Dengan kehadiran Gondang dan Lesung yang berirama menambah menariknya suasana audio-visual didepan mata.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=528&lang=id#sthash.Xp36c17C.dpuf
Kesenian Dogdog Lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau Kesatuan Adat Banten Kidul yang tersebar disekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan Dogdog Lojor, yaitu nama salah satu waditra di dalamnya, tetapi disana juga digunakan Angklung karena ada kaitannya dengan ritual padi. Setahun sekali setelah panen, seluruh masyarakat mengadakan acara sera h taun atau seven taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai dengan petunjuk gaib.
 
Tradisi penghormatan padi dikalangan masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit Keraton Pajajaran dalam baresan pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka terhadap pengaruh modernisasi, serta hal-hal yang bersifat hiburan dan merupakan kesenangan duniawi yang bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula terhadap fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an Dogdog Lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak dan acara lainnya.
 
Instrumen yang digunakan dalam Dogdog Lojor ini adalah dua buah Dogdog Lojor dan empat buah Angklung. Keempat buah Angklung tersebut memilki nama, yang terbesar dinamakan Gonggong, kemudian Panembal, Kingking dan Inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang pemain sehingga semuanya berjumlah enam orang.
 
Lagu-lagu Dbgdog Lojor diantaranya Lagu Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Panganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis Dogdog dan Angklung cenderung tetap.
 
Sedikit berbeda dengan yang pernah tersaksikan pada tahun 1970­an di Kampung Adat Sirnaresmi Kec. Cisolok Kab. Sukabumi. Disini jumlah Angklungnya lebih banyak serta ditampilkan oleh dua kelompok yang seolah-olah berlawanan serta bertanding dalam mempertontonkan keragaman keterampilannya. Secara kompak masing-masing kelompok mempertunjukkan berbagai Iangkah sambil menabuh Angklungnya dan Dogdog Lojor. Mereka meloncat­loncat bersama, bergeser bersama dan berlarian menghindari gangguan kelompok lain. Mereka berlari data pola Oray-orayan serta bermain Ucing-ucingan, sating mengintai dan membuyarkan kelompok lain.
 
Dalam suatu upacara seren taun di Sirnaresmi pada tahun 70-an terlibat dalam Helaran Ngakut Pare. Kemudian setelah Ampih Pare, barisan Dogdog Lojor tampil mempertunjukkan keterampilannya untuk menghibur para pengunjung upacara. Dengan kehadiran Gondang dan Lesung yang berirama menambah menariknya suasana audio-visual didepan mata.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=528&lang=id#sthash.Xp36c17C.dpuf
 
 Kesenian Dogdog Lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau Kesatuan Adat Banten Kidul yang tersebar disekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan Dogdog Lojor, yaitu nama salah satu waditra di dalamnya, tetapi disana juga digunakan Angklung karena ada kaitannya dengan ritual padi. Setahun sekali setelah panen, seluruh masyarakat mengadakan acara sera h taun atau seven taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai dengan petunjuk gaib.

Tradisi penghormatan padi dikalangan masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit Keraton Pajajaran dalam baresan pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka terhadap pengaruh modernisasi, serta hal-hal yang bersifat hiburan dan merupakan kesenangan duniawi yang bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula terhadap fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an Dogdog Lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak dan acara lainnya.

Instrumen yang digunakan dalam Dogdog Lojor ini adalah dua buah Dogdog Lojor dan empat buah Angklung. Keempat buah Angklung tersebut memilki nama, yang terbesar dinamakan Gonggong, kemudian Panembal, Kingking dan Inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang pemain sehingga semuanya berjumlah enam orang.

Lagu-lagu Dbgdog Lojor diantaranya Lagu Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Panganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis Dogdog dan Angklung cenderung tetap.

Sedikit berbeda dengan yang pernah tersaksikan pada tahun 1970­an di Kampung Adat Sirnaresmi Kec. Cisolok Kab. Sukabumi. Disini jumlah Angklungnya lebih banyak serta ditampilkan oleh dua kelompok yang seolah-olah berlawanan serta bertanding dalam mempertontonkan keragaman keterampilannya. Secara kompak masing-masing kelompok mempertunjukkan berbagai Iangkah sambil menabuh Angklungnya dan Dogdog Lojor. Mereka meloncat­loncat bersama, bergeser bersama dan berlarian menghindari gangguan kelompok lain. Mereka berlari data pola Oray-orayan serta bermain Ucing-ucingan, sating mengintai dan membuyarkan kelompok lain.

Dalam suatu upacara seren taun di Sirnaresmi pada tahun 70-an terlibat dalam Helaran Ngakut Pare. Kemudian setelah Ampih Pare, barisan Dogdog Lojor tampil mempertunjukkan keterampilannya untuk menghibur para pengunjung upacara. Dengan kehadiran Gondang dan Lesung yang berirama menambah menariknya suasana audio-visual didepan mata.
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Related

BUDAYA 8207371617660391254

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item