PAREBUT SE’ENG





SEJARAH PAREBUT SE’ENG DI DESA SINDANGBARANG

Sejarah
Parebut seeng merupakan salah suatu jenis atraksi pertunjukan seni yang terdapat di Kabupaten Bogor.  Dalam peragaannya kesenian ini memperlihatkan gerak atau jurus-jurus dasar silat.    Awalnya kesenian ini tumbuh di  Cimande. Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor yang merupakan pusat seni bela diri yang terkenal.  Di tempat tumbuhnya sendiri seni ini disebut  tepak seeng dan ditampilkan pada acara-acara pernikahan. Kesenian ini kemudian menyebar ke berbagai tempat seiring dengan penyebaran ilmu bela diri pencak silat itu sendiri.  Sekitar tahun 1925-an salah seorang warga Sindangbarang Desa Pasireurih, Kecamatan  Tamansari (waktu itu termasuk Kecamatan Ciomas) yang bernama Bapak Ujang Aslah bermukim di Cimande belajar pencak silat aliran Cimande dari Abah Haji Hasbulloh.
Setelah lima tahun mempelajari persilatan  kemudian ia kembali ke  kampungnya. dan mulai mengajarkan persilatan aliran Cimande. Setelah Bapak Ujang Aslah berusia 75 tahun karena usianya yang tua dia menurunkan ilmunya kepada murid-muridnya di antaranya kepada Sdr. Ukat S.  Berkat usaha-usahanya seni parebut seeng tersebut dapat diangkat kembali tepatnya mulai tahun 2006.  Selain itu sebelumnya di bawah asuhan  Lurah Pasireurih yaitu Bapak Etong Sumawijaya, sejak tahun 1950-1970-an  pencak silat aliran Cimande berikut atraksi tepak seeng yang kemudian dinamakan parebut se’eng serta berbagai jenis kesenian tradisional lainnya berkembang   dan menyebar ke berbagai tempat. Berbagai macam kesenian tradisional   sering dipertunjukkan pada acara-acara seperti acara sidekah bumi (seren taun), acara 17 Agustusan,  besanan, dan lain.lain
Kegiatan almarhum Bapak Etong Sumawijaya  dalam bidang kesenian tersebut dilanjutkan oleh salah seorang cucunya yang bernama Maki Sumawujaya hingga saat ini.
Acara parebut seeng
Di Sindangbarang acara ini pada awalnya biasanya diadakan sehari sebelum hari pernikahan (akad nikah).yaitu pada upacara besanan.  Sekarang ini sesuai dengan perkembangan jaman dilakukan pada saat sebelum akad nikah. Di halaman depan rumah, calon pengantin perempuan didampingi kedua orang tua, para sesepuh,  seorang bobotoh dan seorang pendekar. menyambut kedatangan rombongan calon pengantin pria. Pihak tuan rumah dalam acara ini harus menyediakan sebuah hawu atau tungku tradisional sebagai persyaratan. .
Sementara itu rombongan calon pengantin pria terdiri atas  yaitu
  • calon pengantin pria didampingi oleh kedua orang tuanya.
  • para kerabat dan para sesepuh lainnya
  • bobotoh atau pendekar yang mengepit sebuah seeng (dandang)
  • pembawa dongdang berisi berbagai macam  peralatan rumah tangga
  • pemain reog
Setelah kedua pihak saling berhadapan dan berbasa-basi melalui bobotoh atau juru bicaranya masing-masing,  pihak calon pengantin pria mengemukakan maksud kedatangannya serta  pihak calon perempuan memberikan jawabannya.  Kemudian acara dilanjutkan dengan atraksi adu laga parebut seeng. Sebuah seeng atau dandang diikatkan pada punggung pendekar dari pihak tamu, sementara pendekar dari pihak tuan rumah harus dapat merebutnya.   Kedua pendekar saling memperagakan kepandaian silatnya masing-masing diiringi  bunyi gendang pencak.  Adu laga tersebut akan berakhir apabila seeng tersebut dapat direbut oleh pendekar dari calon pengantin perempuan. Seni atraksi  parebut seeng kadang-kadang ditampilkan oleh dua atau tiga pasangan yang dimainkan  secara bergiliran atau bersamaan./serentak.
Setelah atraksi parebut seeng ini selesai. kemudian diteruskan dengan acara pokok/puncak yaitu akad nikah

Related

BUDAYA 4843929223528313307

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item